Pengembangan Robot Masih Terkendala Dana

Posted in info on March 31st, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

JAKARTA, Sejumlah dosen dari puluhan perguruan tinggi di Indonesia mengikuti workshop robotika di World Robotics Explorer di Jakarta, 25-26 Maret 2011. Tema pelatihan adalah penggunaan robot Nao, robot humanoid yang diproduksi oleh Aldebaran Robotics di Perancis.

Dalam kesempatan pelatihan itu hadir pakar robotika dari Universitas Indonesia, Dr Ir Wahidin Wahab M.Sc, dan Technical Director Aldebaran Robotics Asia Pasific Alban Nanty. Dalam kesempatan pelatihan, Wahidin mengungkapkan beberapa kemajuan robotika Indonesia.

“Kita lihat lima tahun ini robotika Indonesia berkembang pesat. Indikatornya semakin banyak anak-anak kita yang diikutsertakan dalam perlombaan dan meraih penghargaan,” ungkapnya.

Ia menyatakan, dalam beberapa kali perlombaan terlihat bahwa kelebihan kontestan Indonesia adalah pada pembuatan creative robot. Sebagai contoh, pada perlombaan robotik di Australia yang bertema pelestarian air, kontestan Indonesia berhasil membuat robot penyaring air.

“Secara pengetahuan sebenarnya kita tidak kalah dibandingkan negara lain. Hanya saja kalau berbanding dengan robot yang dibuat, kita masih ketinggalan. Saya kira ini tidak hanya terjadi di robotika,” katanya.

Di universitasnya sendiri, saat ini Wahidin dan mahasiswanya lebih fokus mengembangkan alogaritma. Fokus ini dimaksudkan agar jika dana telah mencukupi untuk pembelian mekanik, maka pengembangan lain bisa dilakukan dan robot bisa diciptakan.

Wahidin mengatakan, salah satu hambatan dalam pembuatan robot adalah pendanaan. “Kita nggak punya cukup uang untuk mendesain atau mengembangkan hardware-nya. Jadi memang keterbatasannya masih pada dana,” jelasnya.

Ia mencontohkan, dalam pengembangan robot humanoid Nao yang diproduksi Perancis, biaya bisa mencapai 2 kali lipat harga jual robotnya. “Kalau beli itu 150 juta, kalau kita kembangkan bisa 2 kali lipatnya. Mereka saja butuh 3 tahun dan lebih dari 20 expert untuk mendesain,” ujarnya.

Dengan dana yang terbatas, menurut Wahidin, yang perlu dilakukan adalah melihat aspek-aspek lain dari dunia robotika yang bisa dikembangkan. “Tidak perlu pesimis, kita bisa kembangkan dari sisi software kalau hardware-nya memang belum bisa,” paparnya.

Wahidin kini tengah mengumpulkan pakar, dosen, dan penggemar robotika dalam wadah  Asosiasi Robotika Indonesia. Organisasi tersebut diharapkan bisa mendorong kemajuan robotika di Indonesia. “Sekarang sedang kita kumpulkan, nanti kalau sudah terkumpul akan kita petakan sesuai keahliannya,” ucapnya.

Wahidin mengatakan, robotika bisa menjadi media untuk memacu penguasaan teknologi seperti mesin, elektronika, dan komputer. Harapannya, dalam 5-10 tahun mendatang teknologi Indonesia bisa lebih maju dengan kemajuan di bidang robotika.

Kompas.com, Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
Minggu, 27 Maret 2011 | 16:46 WIB

Mobil Berbahan Baku Nanas?

Posted in info on March 31st, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

JAKARTA, Bagaimana jika sebuah mobil terbuat dari nanas? Wah, pasti seru naik mobil ini. Para ilmuwan yakin, serat tanaman seperti nanas dan pisang bisa dipakai sebagai bahan baku body mobil. Kata mereka, dalam 2 tahun ke depan mobil berbahan serat tanaman buah itu bisa terwujud.

Imagi pembuatan mobil berbahan serat tanaman buah ini adalah contoh inovasi teknologi nano. Jadi, serat tanaman ini dimanfaatkan sebagai campuran untuk memperkaya bahan plastik. Ilmuwan mengatakan, bahan plastik yang telah diperkaya dengan serat tanaman akan menjadi bahan yang super kuat.

Dr Alcides Leao dari Sao Paulo University, pengembang bahan ini, mengatakan pada American Chemical Society di Anaheim, California, “Karakteristik dari plastik (yang telah diperkaya serat tanaman) ini luar biasa. Bahannya ringan tapi sangat kuat. 30 persen lebih ringan dan 3 hingga 4 kali lebih kuat dari plastik biasa.”

“Kami percaya, beberapa bagian mobil seperti dashboard, bemper dan panel samping, akan terbuat dari serat nano buah ini. Satu hal, bahan ini akan mengurangi berat mobil dan meningkatkan efisiensi bahan bakar,” lanjut Leao seperti dikutip Daily Mail 28 Maret 2011.

Serat tanaman yang dipergunakan dalam proses ini adalah serat nano yang 50.000 unitnya saja hanya berdiameter sehelai rambut. Serat ini diperoleh dengan proses yang lebih kompleks dari serat tanaman biasa yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas selama berabad-abad.

Dr Leao telah meneliti beragam serat tanaman untuk membuat material plastik yang lebih kuat, ringan dan ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitiannya, bahan baku paling potensial sebagai pengaya plastik adalah daun dan batang nanas serta curaura, sejenis nanas yang tumbuh di Amerika Selatan.

Leao mengakui bahwa proses membuat material ini sangat mahal. Namun sebenarnya hanya dibutuhkan serat dalam jumlah sedikit saja untuk memperkaya plastik. Ia juga mengatakan bahwa ke depannya, material ini bahkan bisa dipakai untuk bahan baku spare part mobil lain.

“Sejauh ini, kita masih fokus dalam upaya menggantikan material mobil berbahan plastik. Tapi di masa depan kita mungkin bisa menggantikan spare part berbahan logam dengan serat nano ini,” paparnya.  Menurutnya, bahan ini bahkan bisa dipakai untuk aplikasi medis, seperti digunakan sebagai pembuat sendi artifisial.

Selain nanas, bahan baku lain yang bisa dimanfaatkan untuk membuat serat nano ini adalah serat pisang dan serat batok kelapa. Selain jadi lebih ringan dan kuat, dengan serat tanaman ini plastik akan lebih tahan panas dan bahan bakar yang tumpah.

Kompas.com
Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Pepih Nugraha
Kamis, 31 Maret 2011 | 10:48 WIB

Tanaman Pangan Tahan Perubahan Iklim

Posted in info on March 26th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

JAKARTA, Di tengah ancaman perubahan iklim yang bisa menyebabkan kegagalan panen dan krisis pangan, ada satu harapan. Sorghum, salah satu jenis tanaman serealia yang kini banyak dikembangkan di Afrika dan India, ternyata bisa bertahan di tengah kondisi tersebut.

“Perubahan iklim adalah salah satu kesempatan bagi sorghum. Perubahan iklim menyebabkan kebanyakan area dimana kita menanam tanaman pangan mengalami kekeringan dan peningkatan suhu,” kata Tesfaye T. Tesso Ph.D, peneliti sorghum dari Amerika Serikat di Jakarta, Rabu (2/3/2011). Ia menjadi salah satu pembicara seminar mengenai teknologi sorghum yang digelar Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Tesso mengatakan, komplikasi yang lebih parah bisa mengakibatkan marginalisasi lahan dan berkurangnya kesuburan tanah. Dalam situasi tersebut, menurutnya, tak banyak jenis tanaman pangan yang bisa dibudidayakan karena tidak toleran terhadap suhu tinggi dan kekeringan.

“Karena adaptasi alaminya, sorghum memiliki potensi besar untuk memberi pangan pada kondisi tersebut,” papar Tesso.

Menurut Tesso, sorghum memiliki kapasitas untuk mengekstrak kelembapan tanah yang rendah, tingkat penguapan air di daun yang rendah serta kapasitas untuk mengekstrak nutrisi dari tanah jadi bisa bertahan. Berdasarkan kondisi pengembangan sorghum saat ini, Tesso mengatakan bahwa 5 negara yang bisa memproduksi sorghum terbesar adalah Amerika Serikat, Nigeria, Sudan, India, dan Ethiophia.

Indonesia sendiri cukup memiliki potensi asalkan serius dalam mengembangkannya. Salah satunya dengan pemuliaan bibit yang sesuai kondisi lahan di Indonesia dengan teknologi nuklir. Dalam seminar di mana Tesso menjadi salah satu pembicaranya itu, dipamerkan beberapa produk pangan berbasis sorghum, diantaranya brondong sorghum, pilus sorghum, dan kue sorghum.

Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
KOMPAS.com, Rabu, 2 Maret 2011 | 22:34 WIB

Sorghum Jadi Bahan “Fast Food” buat Sapi

Posted in info on March 26th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

JAKARTA, Peneliti dari Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Ir. Suharyono M.Rur. Sci., kini tengah mengembangkan fast food untuk ternak. Bahan dasar dari fast food tersebut adalah sorghum, jenis tanaman serealia yang bisa tumbuh di lahan kering.

Untuk membuatnya, sorghum terlebih dahulu dibuat menjadi silase. Dalam prosesnya, sorghum dipotong-potong menjadi lebih pendek, kemudian dimasukkan dalam wadah kedap udara dan difermentasi.

“Setelah jadi silase, lalu ditambahkan biosuplemen dan bahan-bahan lain sebagai media,” kata Suharyono yang merupakan peneliti nutrisi ternak Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Sorghum yang menjadi bahan dasar pembuatan fast food ini diketahui lebih bernutrisi dari jenis pakan lain seperti rumput gajah. Salah satu indikatornya, sorghum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, yakni 10-12%. Selama ini, sorghum yang diberikan pada ternak berupa silase dan sorghum segar yang telah dipotong-potong.

Diketahui, sorghum juga adalah pangan ternak yang sangat potensial untuk diberikan pada sapi. Fast food untuk ternak ini kini tengah dikembangkan namun wujudnya nanti belum bisa diketahui. Suharyono mengungkapkan, dengan fast food ini, diharapkan penggunaan sorghum lebih meluas dan ternak pun mendapatkan nutrisi yang lebih baik.

Lalu, dimana peran teknologi isotop dan radiasi dalam pengembangan pakan ternak ini? “Dengan isotop, kita bisa tahu apakah pakan itu bagus bagi ternak dengan melihat jumlah fosfor yang terserap. Dengan radiasi, kita bisa tahu logam berat dan mineral yang terdapat di bahan pakan,” kata Suharyono.

Sorghum adalah tanaman yang bisa dimanfaatkan biji, batang dan daunnya. Selain bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tanaman ini juga punya potensi sebagai bahan pangan manusia. Jenis serealia ini bisa ditanam di lahan kering sehingga bisa jadi alternatif bagi penduduk dimana padi, jagung atau gandum sulit dibudidayakan.

Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
KOMPAS.com, Rabu, 2 Maret 2011 | 22:38 WIB

Dikembangkan, Robot Pencari Korban Gempa

Posted in Uncategorized on February 12th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO
Petugas melakukan evakuasi di Hotel Ambacang, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/10).

JAKARTA, KOMPAS.com – Insentif dana riset dari Indonesia Toray Science Foundation digunakan antara lain untuk penelitian robot pendeteksi korban bencana gempa. Meski tidak besar, insentif dari perusahaan Jepang itu ikut menggairahkan iklim penelitian di Indonesia.

“Saya menggunakan teknologi robot haptics, dengan metode kontrol bilateral,” kata periset Abdul Muis dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Rabu (9/2/2011) di Jakarta. Ia mendapat dana riset Rp 35 juta.

Perusahaan Toray Industries Inc dari Jepang memiliki 10 perusahaan patungan yang beroperasi di Indonesia. Sejak tahun 1993, perusahaan itu membentuk Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk membantu pengembangan riset.

Sebanyak 19 riset periode 2009-2010 dibiayai dengan dana Rp 3 miliar. “Penelitian itu tidak ada hubungan dengan usaha Toray,” kata Ketua ITSF Soefjan Tsauri.

Abdul Muis mengatakan, robot untuk bencana gempa dengan teknologi haptics lebih akomodatif terhadap kondisi lapangan. Teknologi robot ditujukan untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah reruntuhan puing bangunan akibat gempa.

“Dengan kontrol bilateral, maka dibutuhkan master yang menunjang pengendalian robot secara lebih akurat,” kata Abdul Muis.

Menurut Abdul Muis, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala pengembangan riset di Indonesia. Padahal, kapasitas para ilmuwan cukup memadai untuk menunjang berbagai kebutuhan negara.

Secara terpisah, Amin Soebandrio, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi, mengatakan, saat ini alokasi anggaran riset baru mencapai 0,04 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jumlah ini jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga yang memiliki dana riset mencapai 1 persen dari PDB.

Beberapa periset lain yang menerima dana insentif ITSF 2009-2010 juga menunjukkan keandalannya. Ika Roostika Tambunan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika di bawah Kementerian Pertanian berhasil mengembangkan metode penyimpanan plasma nutfah pisang.

“Peralatan penyimpanan plasma nutfah pisang dengan volume 34 liter bisa untuk menyimpan 2.000 sampai 3.000 kalus (struktur regenerasi pisang) sampai puluhan tahun,” kata Roostika.

Fatimah, periset lain dari lembaga sama dengan Roostika, memanfaatkan dana insentif dari ITSF untuk mengidentifikasi gen penting padi lokal. Tujuannya supaya padi tahan serangan penyakit bacterial leaf blight (BLB) atau penyakit kresek yang mengakibatkan gagal panen karena daun padi mengering.(NAW)

Mahasiswa Jenius Termuda di Hongkong berumur 9 Tahun dari Indonesia

Posted in Uncategorized on February 12th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

di Hongkong berumur 9 Tahun dari Indonesia

March Boedihardjo, satu dari banyak anak berprestasi Indonesia keturunan Tionghoa lahir pada tahun 1998 di Hongkong. March Boediharjo dan keluarganya adalah orang Indonesia yang bermukim di Hongkong. Dan ketika tahun 2005, March dan keluarganya hijrah ke United Kingdom, ketika kakak laki-lakinya, Horatio Boediharjo yang saat itu berusia 14 tahun mendapat beasiswa di Oxford University, dalam program Phd, dan membuat ia menjadi salah satu siswa termuda di universitas itu.

Kedua anak keturunan Boediharjo ini memang menunujukantalenta lebih dalam bidang ilmu matematika, ayahnya memang sudah sejak kecil mengenalkan matematika kepada kedua anaknya ini, bahkan ketika makan pun yang mereka bicarakan adalah soal matematika. March menyelesaikan sekolah menengahnya di Inggris ketika ia dan keluarganya menemani kakaknya menempuh pendidikan di Ingris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik. Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut. Ia juga mendapatkan 8 GCSEs dalam waktu yang sama dengan ketika ia mengikuti ujian A-level di Inggris. Setelah itu, ia pun mendaftarkan diri ke Baptist Hong Kong (HKBU), sebenarnya March sudah melamar ke beberapa universitas lain di Hong Kong. Di antaranya yaitu Universitas of Hong Kong, Hong Kong University of Science and Technology, dan Chinese University of Hong Kong. Namun, sayangnya universitas-universitas itu belum memberikan jawaban, aku ayah March. Sebenarnya, March ingin menyusul kakaknya yang berusia 14 tahun yang melanjutkan pendidikan di Oxford University di Inggris, namun sayangnya keluarga mereka tidak punya cukup uang, waluapun ayahnya adalah seorang pengusaha karena biaya hidup di Inggris itu sangat mahal dan akhirnya March dan orang tuanya pun harus kembali ke Hongkong lagi meninggalkan kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di Oxford.

Ia mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). Di tahun-tahun pertamnya dia mengkritik bahwa pelajaran yang diajarkan terlalu mudah. Ia mendapatkan B+dan A- di hampir semua ujian matematika yang membuat ia masuk ke dalam daftar Dean, yaitu penghargaan bagi siswa yang memiliki IPK 3.00-3.49 dengan tidak ada nilai dibawah C. March juga akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun yaitu pada tahun 2010. Dia juga mengkritik bahwa ia tidak punya kesan baik terhadap rekan kuliahnya.

“Mereka tidak memberi tanggapan (di ruang kuliah). Mereka cuma mendengarkan dan satu sama lain tidak berinteraksi,” katanya.

Anak itu mengatakan rekannya di sekolah sebelumnya “ingin bermain”, tidak seperti mahasiswa perguruan tinggi.

Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya.”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya.

Seorang wartawan BBC di Hongkong, Vaudine England pernah mewawancarinya suatu saat dan ia berkata bahwa March Tian Boedihardjo tidak beda dengan bocah-bocah lain yang berusia 9 tahun, ia masih memiliki sisi kejenakaan khas anak-anak dan March juga mengaku bahwa selain ia hobi melahap dan mempelajari semua buku matematika miliknya, ia juga sangat senang bermain catur, monopoli, dan lego.

Pelajaran yang dapat kita ambil

Saya selalu berpikir bahwa matematika itu sulit mungkin begitupun dengan anda, saya sering sekali mendapatkan nilai dibawah 7 di ulangan matematika saya, tapi setelah saya membaca kisah seorang Tian Boediahrjo, istilah tidak ada yang tidak mungkin andaikan kita mau berusaha dan terus focus itu memang benar. Mungkin saat ini saya kurang berusaha dan focus sehingga banyak kegagalan menghampiri saya. Tapi saya akan berusaha untuk bisa berhasil dan membangun diri dari segala kegagalan yang pernah saya alami. Sebab “aku bisa” dan “kita bisa”. Ayo kita berprestasi untuk mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

“Ketika kita berpikir bahwa matematika itu sulit dan banyak orang menyerah jika sudah tidak bisa menemukan cara untuk menyelesaikan suatu soal, anak Indonesia jenius ini justru tidak berpikir seperti itu, ia selalu berpikir matematika adalah sebuah tantangan yang mengasyikan untuk diselesaikan buatnya.”

Referensi :

– http://en.wikipedia.org/wiki/March_Tian_Boedihardjo
– http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070826_mathprodigy.shtml
– http://www.antara.co.id/view/?i=1188988070&c=SBH&s
– http://www.menkokesra.go.id/content/view/4979/

Penemu Handphone Pertama

Posted in Uncategorized on February 12th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

Martin Cooper sang penemu telepon genggam ini sendiri tidak membayangkan bahwa telepon selular bisa sekecil sekarang ini sehingga dapat dibawa kemana saja sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan di zaman nirkabel sekarang ini. Martin Marty Cooper (lahir 26 Desember 1928 di Chicago, Illinois, USA) yang merupakan pemimpin tim insinyur dari Motorola yang mengembangkan perangkat genggam ponsel yang berbeda dari telepon mobil (Car Phone). Cooper adalah CEO dan pendiri ArrayComm, sebuah perusahaan yang bekerja dalam penelitian teknologi Smart Antena dan mengembangkan jaringan nirkabel, dan merupakan direktur Penelitian dan Pengembangan Motorola.

Masa Awal

Martin Cooper dibesarkan di Chicago ketika terjadi masa resesi dunia. Orang tuanya adalah imigran Ukraina. Ia menerima gelar sarjana di bidang Electrical Engineering pada tahun 1950.

Karir

Martin Cooper bergabung dengan Reserve Officers Training Corps Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia bertugas di kapal perusak Angkatan Laut AS selama Perang Korea dan kemudian di sebuah kapal selam yang bermarkas di Hawaii.

Setelah perang usai, Cooper meninggalkan angkatan laut dan mulai bekerja di Teletype, anak perusahaan Western Electric. Pada tahun 1954, ia pindah ke Motorola. Sambil bekerja di sana ia meneruskan studinya dimalam hari. Pada tahun 1957, ia menerima gelar Magister dalam bidang rekayasa elektronika dari Illinois Institute of Technology.

Pada tahun 1960 ia berperan penting dalam mengubah lembaran teknologi informasi yang sebelumnya terbatas digunakan dalam satu bangunan tunggal menjadi semakin luas yang dapat menghubungkan antar kota. Cooper membantu memperbaiki cacat dalam kristal Motorola yang dibuat untuk radio. Hal ini mendorong perusahaan untuk memproduksi massal kristal kuarsa pertama untuk digunakan dalam jam tangan quartz.

Pada tahun 1960, John F. Mitchell menjadi kepala insinyur proyek komunikasi portabel Motorola. Pada awal 1970-an, Mitchell memberi tanggung jawab pada Cooper di divisi telepon mobil (Carphone). Mitchell dan Cooper membayangkan sebuah produk komunikasi yang tidak hanya terpaku di dalam mobil. Sehingga alat tersebut haruslah kecil dan cukup ringan untuk menjadi alat portabel. Butuh waktu 90 hari pada tahun 1972 untuk menciptakan prototipe pertama dari ide tersebut.

Cooper dan para insinyur yang bekerja untuknya, serta Mitchell mempatenkan penemuan “Radio Telephone System” yang diajukan pada 17 Oktober 1973 dengan nomor paten 3906166 dan disetujui pada September 1975 atas nama mereka. Cooper dianggap sebagai penemu pertama telepon genggam seluler (handphone) pertama dan orang pertama yang melakukan panggilan dengan prototipe ponsel genggam seluler tersebut pada 3 April 1973. Kejadian yang bersejarah tersebut disaksikan di muka umum di depan wartawan dan orang orang yang lewat di jalan kota New York. Panggilan pertama ditujukan kepada Dr. Joel S. Engel, kepala riset di Bell Labs.

Kalimat pertama yang diucapkan adalah “Joel, I’m calling you from a ‘real’ cellular telephone. A portable handheld telephone.”

Panggilan pertama tersebut sebagai awal penanda mulainya pergeseran fundamental teknologi dan pasar komunikasi ke arah komunikasi telepon yang portabel dimana seseorang dapat langsung berkomunikasi langsung dengan orang lain, tidak lagi seperti dahulu kala dimana yang dituju adalah tempat sebagaimana telepon rumah. Ini adalah karya hasil dari visinya bagi komunikasi telepon genggam nirkabel personal yang membedakannya dari telepon mobil (Car Phones). Cooper kemudian mengungkapkan bahwa ia mendapat ide untuk mengembangkan ponsel setelah menonton Kapten Kirk yang menggunakan suatu alat komunikator pada acara serial televisi Star Trek.

Meskipun digelari sebagai ‘Bapak Telepon Selular (Ponsel)’, dengan rendah hati Martin Cooper mengatakan “Meskipun aku bagian dari penemuan tersebut, tapi karya tersebut adalah hasil kerja tim dan ratusan literatur orang orang yang menciptakan visi tentang bagaimana selular seperti hari ini, yang tentu belum sempurna. Kami masih terus bekerja dan berusaha untuk membuatnya lebih baik”.


Komersialisasi Produk

Handset pertama Motorola DynaTAC, mempunyai berat 1 kg (2,2 pon) dan 35 menit waktu bicara. Di tahun 1983, setelah mengalami empat kali iterasi, tim Cooper telah mengurangi berat handset menjadi setengahnya. Harga produk tersebut sekitar $ 4.000 (atau sama nilainya dengan$ 8.600 di tahun 2009). Cooper Meninggalkan Motorola sebelum mereka mulai menjual ponsel genggamnya ke konsumen.

Sistem Bisnis Selular

Martin Cooper memulai sebuah perusahaan dengan para mitra yang menyediakan sistem penagihan operator selular. Pada tahun 1986, mereka menjual Cincinnati Bell seharga $23m.

ArrayComm

Pada tahun 1992, Martin Cooper bergabung dengan Richard Roy, seorang peneliti di Universitas Stanford, untuk membentuk ArrayComm. Perusahaan ini mulai mengkhususkan dalam penciptaan komunikasi selular yang lebih efisien. Sementara memimpin perusahaan ini, Cooper menciptakan Hukum Cooper (Cooper’s Law). Hukum ini menyatakan bahwa setiap 30 bulan jumlah informasi yang ditransmisikan melalui jumlah tertentu melalui spektrum radio bertambah dua kali lipat. Dia menyatakan bahwa hukum ini telah berlaku sejak tahun 1897 ketika Marconi mempatenkan telegraf nirkabel pertama kali.

Penghargaan dan Afiliasi

Pada tahun 1995, Martin Cooper menerima penghargaan Wharton Infosys Business Transformation Award untuk inovasi teknologi di bidang komunikasi. Cooper juga merupakan anggota Mensa International. Di tahun 2000 Martin Cooper termasuk Top Sepuluh Pengusaha di majalah Red Herring. Pada tahun 2009, ia bersama dengan Raymond Tomlinson dianugerahi Prince of Asturias, sebuah penghargaan bagi penelitian ilmiah dan penelitian teknis.

“ Wireless is freedom. It’s about being unleashed from the telephone cord and having the ability to be virtually anywhere when you want to be. That freedom is what cellular is all about. It pleases me no end to have had some small impact on people’s lives because these phones do make people’s lives better. They promote productivity, they make people more comfortable, they make them feel safe and all of those things. In the sense I had a small contribution there makes me feel very good” (Martin Marty Cooper)

Referensi :

– http://www.dakdem.com/artikel-bebas/20-biografi/624-kisah-penemu-handphone-pertama-martin-cooper

Wow, Karya “Anak Cibinong” Ini Mendunia!

Posted in Menakjubkan on February 9th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

Andiyan Lutfi Andiyan Lutfi, fotografer amatir asal Cibinong, Jawa Barat, berhasil mengabadikan momen alam yang menakjubkan dengan kameranya. Foto jepretannya ini menjadi headline dalam rubrik Science and Technology di Dailymail, Kamis (13/1/2011).

KOMPAS.com – Andiyan Lutfi, fotografer amatir asal Cibinong, Jawa Barat, berhasil mengabadikan momen alam yang menakjubkan dengan kameranya. Lantaran itu pula, foto jepretannya menjadi headline dalam rubrik Science and Technology di Dailymail, Kamis (13/1/2011).

Dalam salah satu hasil jepretannya, tampak koloni semut sedang menyerang seekor lalat yang berusaha masuk ke teritorinya. Foto ini menggambarkan perilaku semut yang mati-matian mempertahankan wilayahnya dari “makhluk” asing.

Pada foto lain Andiyan menggambarkan semut kelaparan yang berupaya meraih sepotong brownies cokelat. Semut-semut tersebut tampak membangun formasi, yaitu satu semut berada di bawah, sementara semut lain berada di atasnya. Mereka terlihat tengah menikmati brownies cokelat itu.

Adapun jenis semut yang tampak pada foto-foro Andiyan adalah semut merah atau biasa disebut semut rangrang. Jenis semut ini adalah salah satu yang paling sering ditemukan di taman.

Diketahui, jenis semut merupakan satu di antara 11.000 jenis semut yang ada di dunia. Mereka hidup dalam koloni. Ada yang berperan sebagai pekerja, pejantan, serta menjadi ratu.

Semut ini juga memiliki penyengat. Walau ukurannya kecil, sengatannya bisa terasa menyakitkan.

Andiyan menuturkan, ia memotret semut-semut tersebut di bawah pohon mangga di halaman rumahnya.

“Saya sering melihatnya dan saya pikir mereka luar biasa,” ujarnya.

Tentu, orang terpukau dengan fotonya. Karena dari jepretannya itu, semut-semut merah tersebut tampak mampu bercerita sendiri.

Foto yang dihasilkan Andiyan tergolong dalam fotografi makro, yaitu jenis fotografi yang membuat pembesaran terhadap suatu obyek atau bisa dikatakan fokus terhadap obyek mikro. Fotografi ini sangat berguna untuk ilmu pengetahuan, misalnya dalam identifikasi spesies baru.

KOMPAS.com – Andiyan Lutfi, fotografer amatir asal Cibinong, Jawa Barat, berhasil mengabadikan momen alam yang menakjubkan dengan kameranya. Lantaran itu pula, foto jepretannya menjadi headline dalam rubrik Science and Technology di Dailymail, Kamis (13/1/2011).

Dalam salah satu hasil jepretannya, tampak koloni semut sedang menyerang seekor lalat yang berusaha masuk ke teritorinya. Foto ini menggambarkan perilaku semut yang mati-matian mempertahankan wilayahnya dari “makhluk” asing.

Pada foto lain Andiyan menggambarkan semut kelaparan yang berupaya meraih sepotong brownies cokelat. Semut-semut tersebut tampak membangun formasi, yaitu satu semut berada di bawah, sementara semut lain berada di atasnya. Mereka terlihat tengah menikmati brownies cokelat itu.

Adapun jenis semut yang tampak pada foto-foro Andiyan adalah semut merah atau biasa disebut semut rangrang. Jenis semut ini adalah salah satu yang paling sering ditemukan di taman.

Diketahui, jenis semut merupakan satu di antara 11.000 jenis semut yang ada di dunia. Mereka hidup dalam koloni. Ada yang berperan sebagai pekerja, pejantan, serta menjadi ratu.

Semut ini juga memiliki penyengat. Walau ukurannya kecil, sengatannya bisa terasa menyakitkan.

Andiyan menuturkan, ia memotret semut-semut tersebut di bawah pohon mangga di halaman rumahnya.

“Saya sering melihatnya dan saya pikir mereka luar biasa,” ujarnya.

Tentu, orang terpukau dengan fotonya. Karena dari jepretannya itu, semut-semut merah tersebut tampak mampu bercerita sendiri.

Foto yang dihasilkan Andiyan tergolong dalam fotografi makro, yaitu jenis fotografi yang membuat pembesaran terhadap suatu obyek atau bisa dikatakan fokus terhadap obyek mikro. Fotografi ini sangat berguna untuk ilmu pengetahuan, misalnya dalam identifikasi spesies baru.

Sumber :
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Ada 19 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • bob beb
    Jumat, 28 Januari 2011 | 16:40 WIB
    mantap..jadi pengen nyoba ehehehe

  • sheira maniz
    Jumat, 28 Januari 2011 | 11:55 WIB
    dari pada ngomongin soal ufo,, naaaaaah yang beginian ini baruuu…

  • Rif’an Binar Nusantara
    Rabu, 26 Januari 2011 | 16:44 WIB
    mantap gan…!

  • muhammad Rifqi Setyazamani
    Sabtu, 22 Januari 2011 | 15:38 WIB
    menggunakan kamera hape bisa juara enggak ya?? hehehe ga unya duit buat beli kamera

  • Imroatush Sholichah
    Kamis, 20 Januari 2011 | 18:16 WIB
    Hasil karya anak bangsa yang harusnya mendapatkan penghargaan dan menjadi sorotan masyarakat indonesia, bukan hanya kasus gayus aja yg disorot..
1 2 3 4 »
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda.

Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
<a href=’http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a64e5c40&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://kcdn2.ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=127&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a64e5c40′ border=’0′ alt=” /></a>

China Bangun Jembatan Terpanjang Di Dunia

Posted in Menakjubkan on February 9th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

Jembatan Qingdao Haiwan

China memang gemar membangun jembatan panjang. 7 jembatan terpanjang dunia ada di China.

Pemerintah China meresmikan megaproyek Jembatan Qingdao Haiwan sepanjang 26,4 mil. Jembatan ini 3 mil lebih panjang dibandingkan pemegang rekor jembatan melintasi air terpanjang di dunia Louisiana, Amerika.

Seperti dikutip dari laman Telegraph, jembatan yang melintas di atas Selat Inggris ini menghubungkan pusat kota pelabuhan Qingdao di Provinsi Shandong, China Timur, dengan kawasan pinggiran Huangdao.

Dengan anggaran sekitar £5,5 miliar, proyek garapan sejumlah insinyur di China ini selesai dalam empat tahun. Saat diresmikan akhir tahun lalu, jembatan ini diproyeksikan dapat menampung lalu lintas sekitar 30 ribu mobil setiap hari. Jembatan ini juga menghemat waktu tempuh antardua kawasan hingga 30 menit.

Lebih 10 ribu pekerja terlibat dalam megaproyek yang membutuhkan 2,3 juta meter kubik beton dan 450 ribu ton baja, jumlah cukup untuk membangun 65 menara Eiffel. Para pejabat berwenang mengatakan, jembatan ini kuat menahan gempa 8 SR, topan, dan hantaman, kapal 300 ribu ton.

Terlepas dari kehebatannya menjadi terpanjang di dunia itu, megaproyek itu menuai kontroversi. Ada yang mendukung sebagai perbaikan sarana transportasi. Namun, tak sedikit yang mengecamnya.

Mereka yang mengecam melihat kebutuhan masyarakat akan jembatan itu tak terlalu signifikan dan mendesak. “Uang miliaran melayang hanya demi menghemat waktu tempuh 20 menit saja. Ini hanya buang-buang uang pembayar pajak,” kata warga dari Provinsi Jilin, di timur laut China.

China memang gemar membangun jembatan panjang. Tujuh dari 10 jembatan terpanjang di dunia ada di negara ini, termasuk jembatan sepanjang 102 mil yang melintasi daratan dan perairan antara Danyang dan Kunshan.

Pada akhir 2006, China juga membangun jembatan sepanjang 31 mil yang menghubungkan jantung industri manufaktur di Zhuhail, Provinsi Guangdong Selatan, dengan pusat ekonomi Hong Kong. Proyek senilai £6,5 miliar ini ditargetkan selesai pada 2016.

sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/198324-china-bangun-jembatan-terpanjang-di-dunia

Daur Ulang Sampah Elektronik

Posted in Menakjubkan on February 9th, 2011 by FIBULA YUDISAPUTRO FIBULA YUDISAPUTRO

Artis Jason Mecier membuat poster realistis menggunakan semua jenis sampah daur ulang. , dibuat dengan remote kontrol, papan elektronik, ponsel dan kabel. Berikut hasil kreatifitas Jason Mecier :

sumber : http://melorot.blogspot.com/2011/01/daur-ulang-sampah-elektronik-menjadi.html